Gladian Reog Ponorogo MTsN 6 Ponorogo, Regenerasi Seniman Tidak Bakal Putus

PONOROGO – Puluhan siswa meliuk-liuk di pelataran lapangan MTs Negeri 6 Ponorogo, Jumat (30/8) sore. Dengan gerakan yang gemulai nan apik, penari siswi yang memerankan tokoh Jathil (prajurit berkuda) dan siswa yang memerankan Warok (sosok berilmu) mampu menyita perhatian peserta kegiatan yang hadir dalam Gebayakan Seni Reog Ponorogo.

Sekitar 100 pelajar MTs Negeri 6 Ponorogo yang sedang berlatih kesenian Reog tersebut bakal tampil di acara HUT Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) Ponorogo pada Kamis, 12 September 2024. Sebanyak lima pembarong dadak merak, enam bujangganong, 20 penari jathil dan 20 warok akan menyuguhkan pertunjukan yang atraktif.

Pada sesi latihan, tari Reog juga diiringi gending dan wirasuara secara langsung oleh puluhan siswa-siswi dari madrasah tersebut yang tergabung dalam ekstrakulikuler paduan suara.

Kepala MTs Negeri 6 Ponorogo Nyamiran mengatakan, penguatan seni dan budaya memang terus digalakkan di Madrasah yang ia gawangi itu. Tidak saja kebudayaan dan kesenian lokal tapi juga kesenian yang membutuhkan pengembangan, seperti Reog yang pernah diklaim negara jiran, Malaysia.

“Madrasah mendukung penuh potensi anak dengan berbagai kegiatan, salah satunya dengan ekstrkurikuler seni seperti ini” ucapnya.

Sebelumnya, para siswa MTs Negeri 6 Ponorogo dengan segudang prestasi ini juga sering diminta untuk mengisi acara diberbagai kegiatan. Latihan rutin juga digelar sebagai upaya untuk mengasah pengetahuan dan keterampilan anak di bidang kesenian.

“Pengetahun anak itu tidak selalu didapat di dalam kelas saja. Melalui ekstrakulikuler tari ini, kognitif, afektif, dan  psikomotor anak dilatih dan dikembangkan,” jelas Nyamiran.

Pimpinan MTs itu menyebut madrasah juga mewadahi potensi anak lewat ekstrakulikuler seni, sehingga anak didik yang memiliki bakat minat di dunia seni akan dikembangkan melalui ekstrakulikuler tersebut. Dengan begitu ia menyebut Ponorogo tak akan kekurangan generasi penerus khususnya di bidang seni Reog Ponorogo.

“Berbekal keterampilan ini anak juga bisa membuka peluang kerja dan kesuksesannya sendiri. Sekaligus sebagai upaya regenerasi seniman Reog agar tidak punah,” tegasnya.

Salah satu siswa pemain Jathil Reog, Alifa Lutfiatul kelas 8A mengatakan, sangat terbantu dengan kehadiran ekstrkulikuler tari di sekolahnya. Lewat latihan tersebut, ia bisa menyalurkan bakat dan minatnya dalam bidang seni. “Saya memang senang menari dan punya minta yang tinggi di bidang kesenian sejak SD. Dengan adanya latihan ini saya merasa senang bisa menari bersama teman-teman, sekaligus merawat kesenian daerah agar tidak punah,” tandasnya.

Join Our Newsletter

Inputkan email anda dan ikuti artikel - artikel terbaru dari kami

Subscription Form